
MALAM itu, pukul 20.00 WIB, Rabu, 19 Januari 2011, pameran yang bertajuk “The Age of Restlessness” di North Art Space (NAS) Ancol Jakarta, dibuka. Pameran ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan program Artist Residency di Pasar Seni Ancol. Program residensi tersebut merupakan pengembangan dari program Transit yang sudah diadakan sejak lama, perbedaan paling mendasar dari program residensi kali ini adalah adanya keikutsertaan Kurator dalam proses penyeleksian perupa yang ikut dalam program ini. Dalam program residensi ini, peserta dipilih dari perupa-perupa yang baru saja selesai menempuh pendidikan formal di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Para perupa itu lain Lutfi Anwar (IKJ), Walid Syarthowi Basmallah (IKJ), Michael Binuko (ITB), Patriot Mukmin (ITB), Rizki Andina (ITB), Saroni (ISI), Sutrisno (ISI), dan Muhamad Yusuf Siregar (ISI). Selama 6 bulan, perupa-perupa tersebut mengadakan diskusi, dan berkomunikasi, serta bertukar pikiran baik sesama perupa maupun masyarakat lingkungan sekitar guna meningkatkan kualitas kekaryaannya.
Dalam program residensi ini, Rifky Efendy, selaku kurator dari NAS mengajukan tema yang berhubungan dengan fenomena-fenomena masyarakat yang terjadi pada era teknologi-informasi ini. Tajuk “The Age of Restlessness” merupakan ungkapan dari kegelisahan jaman yang dirasakan oleh generasi-generasi muda dalam era media-teknologi dan informasi saat ini yang telah mengkonstruksi realita kehidupan sehari-hari. Perupa-perupa muda yang merupakan perwakilan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia (ISI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), diharapkan dapat berinteraksi dan berkreativitas dalam bentuk fisik maupun non-fisik dalam merespon era tersebut.
Secara keseluruhan, pameran ini berlangsung cukup baik, didukung dengan fasilitas tempat berpameran yang kondusif dan suasana yang tertib, North Art Space tidak diragukan lagi merupakan galeri yang cukup profesional dalam menjalankan program kegiatannya. Sayangnya ada sedikit kekecewaan pada pengunjung yang tampaknya tidak mendapatkan katalog jika bukan pihak undangan. Selain itu, meskipun hal ini ditentukan kebijakan para perupa dan kurator, namun ditiadakannya proses diskusi atau artist talk dalam sebuah pameran yang bersifat residensif, tampaknya mengurangi nilai lebih yang harusnya dapat ditonjolkan oleh pameran ini. Pengujian kompetensi sebuah residensi seharusnya dapat dilihat dari sejauh mana tema yang disodorkan oleh kurator dapat direspons oleh para perupa.
Review Karya
Dalam pameran ini, karya-karya Lutfi Anwar yang bertemakan ‘Refreshing’, cukup menarik perhatian. Lutfi menggunakan keramik sebagai media dalam karya-karyanya. Objek-objek dan bentuk yang familiar dengan kehidupan sehari-hari seperti sepatu, ikan dan Dinosaurus menjadi kelebihan karya ini. Penggunaan bahasa rupa yang dipilih oleh Lutfi Anwar memudahkan apresian awam untuk memahami maksud yang ingin disampaikannya. Merujuk pada katalog, Lutfi mengambil tema refreshing untuk melupakan sejenak kepenatan yang dialami manusia dalam era teknologi-informasi ini. Sayangnya karya-karya Lutfi terlalu bersifat deskriptif, objek-objek yang ditampilkan pun cenderung hanya merupakan jiplakan dari benda aslinya. Selain itu, tema refreshing yang ditawarkan bersifat tertutup, hanya berlaku bagi perupanya, ada baiknya juga jika apresian diajak juga untuk refreshing.
Karya-karya Walid Syarthowi Basmallah mungkin kebalikan dari karya Lutfi Anwar, jika karya Lutfi cenderung bertujuan untuk melupakan kepenatan yang hadir di sekitar kita, karya Walid justru mengajak audiens untuk mencari masalah-masalah yang ada namun terlupakan oleh kita. Walid mengambil tema ‘Refleksi Berita Hari Ini’, dalam karya-karyanya Walid mencoba memperlihatkan masalah sosial yang terlupakan, atau dilupakan, atau pura-pura dilupakan oleh kita. Walid menggunakan teknik cetak saring atau lebih dikenal dengan sablon di atas potongan balok pohon kayu, yang digabungkan dengan kaca. Pada balok-balok kayu tersebut terdapat sablonan yang memperlihatkan masalah-masalah realita sosial, pada balok-balok lainnya selain menampilkan masalah sosial, walid menggunakan kaca yang di dalamnya terdapat sablonan ikon-ikon kemewahan. Pada karya ini, jelas sekali usaha Walid untuk menyampaikan kekontrasan yang ada dalam realitas sosial. Karya ini menarik untuk dibahas lebih lanjut. Ada beberapa pertanyaan yang timbul setelah menyaksikan karya ini, misalnya alasan penggunaan balok pohon sebagai media sablon, atau ukuran balok kayu dan kaca yang digunakan, dan kurang fokusnya batasan tema yang diangkat oleh Walid, misalnya, realitas sosial yang mana yang ingin diangkat oleh Walid? Kemiskinan? Politik? Prostitusi? Jika membandingkan pernyataan dan karya Walid hal tersebut belum terjawab.
Cukup mirip dengan Walid, Michael Binuko juga berbicara mengenai kekontrasan realita social. Bedanya, dalam karya-karyanya, Michael Binuko yang akrab dipanggil Koko ini membicarakan realita tersebut dengan alam sebagai objeknya. Koko, dalam karya-karyanya menampilkan tempat-tempat di wilayah Komplek Taman Impian Jaya Ancol yang pada umumnya tidak dapat dikunjungi oleh wisatawan. Dalam pameran ini, Koko cenderung menampilkan plat etsanya yang merupakan cetakkan negatif dari teknik etsa dan karya fotografinya. Sama seperti Ancol yang dikenal sebagai ‘Taman Impian’ namun ternyata di kawasannya terdapat tempat-tempat berkondisi jauh dari ‘impian’, upaya Koko dalam menampilkan cetakan negatif dari karyanya menunjukan sikapnya terhadap kondisi alam dan—mungkin—lingkungan yang terlupakan di kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Sayangnya ukuran yang kurang besar mengurangi efek “wah” yang dapat ditampilkan karya-karyanya.
Jika dibandingkan dengan perupa-perupa sebelumnya, Patriot Mukmin boleh dibilang berbeda dalam pilihan tema yang diangkatnya. Patriot mengangkat ‘Narcissus in Modern Land’ sebagai tema berkarya, Dalam karyanya, Patriot mencoba mengangkat gejala-gejala sifat ‘narsis’ yang timbul pada era teknologi-informasi ini. Kebiasan untuk memfoto diri sendiri melalui lensa kamera merupakan fenomena yang diangkat oleh Patriot. Sebetulnya fenomena ini cukup menarik untuk diolah lebih lanjut, sayangnya pada pameran ini Patriot cenderung membatasi fenomena sifat narsis ini hanya pada penggunaan lensa kamera dan cermin, padahal jika ditelaah lebih lanjut masih banyak teknologi yang dimanfaatkan untuk kepentingan ‘kenarsisan’ lainnya. Mirip seperti karya Lutfi, deskripsi yang ditampilkan Patriot pada kebanyakan karyanya menjadi nilai minus dalam karya-karyanya.
Sebagai satu-satunya perupa wanita dalam program residensi ini, karya-karya Rizki Andina menjadi angin segar untuk dibahas. Rizki Andina yang akrab disapa Iqi ini membahas tubuh perempuan dalam karya-karyanya, Iqi membahas konstruksivitas ideal dan seksual bagi tubuh perempuan, baginya, ideal-seksual tidaknya tubuh wanita bersifat personal, dan kedua hal tersebut seharusnya tidak menutupi nilai-nilai lain pada tubuh perempuan. Pada karya-karyanya, Iqi menggunakan keramik, fotografi, kuningan dan benang sebagai media pada karya-karyanya. Ada tiga kecenderungan fokus dalam pengayaan karya Iqi, pertama ia menggunakan organ-organ tubuh yang, boleh dibilang, tidak memiliki nilai seksual (bahkan menjijikan) bagi masyarakat saat ini, padahal mempunyai hubungan yang erat dengan seksualitas, seperti misalnya tuba valopi (CMiIW), plasenta, dan janin. Objek tersebut lalu diangkatnya menjadi karya ornamentik yang menarik. Kecenderungan kedua, Iqi mengolah image ‘ideal’ menjadi sesuatu yang bersifat sepele. Misalnya, image-image yang dianggap ideal oleh masyarakat saat dijadikan gambar pada kantung teh atau pada luberan air dari teko. Konstruksi ‘ideal’—mungkin—dianggap Iqi, bersifat sama seperti teh yang larut dalam air atau air tumpah dari teko. Kecenderungan terakhir yang dilakukan Iqi dalam membuat karyanya adalah upayanya mengajukan konsep ideal bagi tubuh perempuan dari kegiatan yang dilakukannya dalam kehidupan seperti berkebun, memasak dan berpakaian.
Dalam pameran ini, Saroni menjadi satu-satunya perupa yang mengambil media patung sebagai teknik berkaryanya. Saroni mengangkat tema tidur dalam karya-karyanya, sedikit mirip dengan Lutfi, Saroni menganggap tidur sebagai usaha untuk keluar dari kepenatan dan beristirahat sejenak. Dalam karya-karyanya Saroni menggunakan material resin sebagai bahan dasar, yang kemudian diolah menjadi objek. Saroni mengangkat realita sosial yang ada dalam masyarakat kelas bawah, dimana bagi mereka tidur adalah sebuah ekslusivitas tersendiri ditengah penatnya kehidupan mereka. Sebagai satu-satunya perupa patung dalam residensi kali ini, karya-karya Saroni cukup menarik. Sayangnya, fokusnya Saroni dalam memunculkan ‘tidur’ tidak tampak pada seluruh karyanya. Seperti misalnya pada karya eksploprasi yang menggunakan poly-uretan sebagai materialnya, kehadiran karya ini justru mengganggu keutuhan tema ‘tidur’ pada karya-karya Saroni.
‘The Power of Love’ adalah tema yang diangkat Sutrisno sebagai landasan berkaryanya, dengan menggunakan media cukil kayu dan kolase, Sutrisno menampilkan kekuatan cinta kasih dan kasih sayang antar sesama manusia. Baginya kekuatan yang berasal dari cinta kasih dan kasih sayang sangatlah luar biasa pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Dalam karya-karyanya, tema cinta yang diangkat adalah cinta pada ibu, cinta tanah air, dan cinta pada wanita. Namun, sayangnya karya-karya Sutrisno mempunyai keterbatasan dalam menyampaikan pesan cinta yang dimaksud. Tampaknya, luasnya tema yang dipilih oleh Sutrisno menjadi kesulitan tersendiri bagi Sutrisno untuk memfokuskan karya-karyanya.
Muhamad Yusuf Siregar dalam karya tunggalnya yang berjudul “Ruang Tamu Ibukota” boleh dikatakan sebagai karya yang berani, pasalnya, jika dibandingkan dengan perupa lainnya yang membuat karya lebih dari satu, Ucok (panggilan akrabnya) berani mengambil risiko untuk menampilkan satu sudut pandang pembacaan (saja) untuk bermacam-macam fenomena yang terjadi di Jakarta. Alih-alih mengambil banyak sudut pandang untuk disajikan pada apresian yang memiliki beragam latar belakang, ia justru menyajikan satu cara baca tertentu bagi apresiannya. Namun, sama seperti yang lain, timbul pertanyaan-pertanyaan bagi karya tunggalnya ini, misalnya kemunculan figura yang dilukis dalam lukisan-lukisannya, kepentingan ia dalam menampilkan figura-figura itu secara lukis perlu dijelaskan, selain itu tidak adanya unsur audio dalam karya tunggalnya rasanya perlu ditanyakan jika tujuan dari karyanya adalah menampilkan suasana ibu kota. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar