
WACANA seni rupa kontemporer di Indonesia akhir-akhir ini seperti dikritisi dengan cukup serius oleh semua pihak, apalagi di ruang diskusi seperti art market. Seolah-olah banyak pihak merasa kecolongan dengan banjirnya karya seni rupa kontemporer yang sangat terbuka dan bebas atas nama kebebasan berekspresi. Situasi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi art market yang sedang lesu dan persoalan sandiwara politik yang gencar mengisi halaman dan tayangan media massa.
Tentu saja dibutuhkan strategi yang konstruktif untuk menjaga energi kreatif dan pasar seni rupa yang terus bergairah setelah gerakan masif seni rupa dengan ilusi-ilusi foto-realis pada karya dua dimensi. Saya mengamati memang ada kecenderungan sebuah era transisi untuk menjembatani gairah seni rupa kontemporer dengan kehadiran pelaku pasar yang baru, yaitu invasi media baru di pameran-pameran. Pada era ini saya boleh menyatakan bahwa gerakan seni rupa yang diusung oleh komunitas seni RuangRupa mulai menguat dan menjadi sorotan apresiasi pasar seni rupa saat ini.
Pada penghujung tahun 2010 kemarin wacana new media art ditawarkan kembali oleh Selasar Sunaryo Art Space, melalui garapan kuratorial Agung Hujatnikajenong, menggelar proyek pameran tunggal sekaligus yaitu Banung Grahita dan Duto Hardono. Banung Grahita, seniman muda dengan intensitas pada karya new media art menyajikan banyak menggunakan video, animasi dan media interaktif. Medium itu digarap untuk bercerita. Karya animasinya menyuguhkan gambaran-gambaran fantasi tentang kekuasaan media dalam mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat yang diungkapkan dalam gaya bahasa yang ironis dan sarkastik. Proyek “Profanity Prayers” ini berupa rangkaian video animasi, drawing dan cetak digital, dengan garapan seni yang membidik kehidupan masyarakat kontemporer dengan sistem komunikasi media yang dianggap mengubah manusia menjadi makhluk baru yang tunduk pada Tuhan dan agama media baru.
Duto Hardono mengeksplorasi kemungkinan bahasa visual dengan karya yang mencakup suara, gambar, video dan performance art. Tema kekaryaan “Good Love/Bad Joke” yang dipamerkan di Ruang B, Selasar Sunaryo Art Space, terdiri dari beberapa karya baru berupa rangkaian gambar dan kolase, rekaman suara dan film, serta performance tentang repetisi, pengulangan, penundaan. Karya-karyanya banyak terinspirasi dari beragam sumber mulai dari karya kriya, budaya pop, gerakan anti-seni, humor suram dan nihilisme.
Agung Hujatnikajenong pada catatan kurasi pameran ini menulis bahwa, ”karya-karya Duto Hardono pada dasarnya mewakili ketertarikannya pada keadaan-keadaan yang gamang dalam persepsi dan emosi manusia: situasi berada ‘di antara’; skeptisisme pada kemapanan dan objektifitas; sikap pasrah pada ketakpastian jawaban suatu pertanyaan. Dan di tengah-tengah semua itu ia menggunakan keseniannya sebagai katup pelepasan hasrat. Ia menjadikan kegamangannya sebagai motif untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis, tentang seni itu sendiri, tentang manusia, tentang waktu dan ingatan.” Dan apakah ini simbol dari kegelisahan seniman muda terhadap situasi Indonesia saat ini, bisa jadi demikian. Karya-karya gambar dengan materi kolase hingga membentuk satu ruang abstraksi meninggalkan jejak kegamangan Duto Hardono sekaligus kegamangan bangsa ini terhadap hidup berbangsa dan bernegara.
Karya Duto Hardono, bila ditinjau secara politik, patut diposisikan sebagai bentuk kesenian yang ekspresif dari segelintir masyarakat muda Indonesia, seniman, dalam melihat situasi bangsanya saat ini. Sebanyak 10 gambar abstrak dengan teknik kolase dan 5 buah karya kolase dari kumpulan gambar-gambar binatang, organ tubuh dan tumbuhan, itu semua mengartikulasikan konsep repetisi, putaran dan penundaan yang dikuatkan lagi melalui karya suara/performance serta pemutaran video yang ditayangkan berulang-ulang di salah satu sudut ruang pamerannya.
Salah satu karya yang paling kuat di antara semua karya Duto Hardono adalah “John Cage’s Painting” dengan material framed blank canvas, etched plate, certificate of authenticity berukuran 50x90 cm. Duto mengakui beberapa karyanya dipengaruhi oleh gerakan seni rupa Fluxus yang muncul di Eropa Timur pada awal abad ke-19. Karya itu memang tidak menyajikan sebuah lukisan dengan aliran dan gaya tertentu, hanya bidang putih yang bukan kosong. Duto mencoba mengartikulasikan praktik filsafat pada karya tersebut. Bidang putih dan tidak ada garis atau titik itu jelas merupakan gambaran ilusi dari situasi bangsa ini atau bahkan seni rupa kontemporer Indonesia itu sendiri.
Demikian pula dengan karya Banung Grahita yang didominasi oleh karya-karya looping video. Citraan figur yang diambil/dikutip oleh Banung tidak saja merespons budaya komunikasi masa saat ini yang sangat bergantung pada media visual (sampah-sampah di televisi, film, video klip, tayangan berita), akan tetapi menjadi simbolisme atas kehadiran figur-figur hedon dan hegemonik dalam tayangan televisi setiap hari. Figur itu kemudian dirancang menjadi makhluk mutan yang bercerita dalam videonya yang dikerjakan dengan cara kerja animasi. Kesan surealis dan anomali pada kehadiran figur-figur tersebut sepertinya menjadi upaya Banung dalam menggarap konsep visual dengan narasi dekonstruksi dari mitos-mitos masyarakat kontemporer yang selalu berhubungan dengan dunia maya, jejaring sosial, dan budaya visual dari mesin-mesin budaya baru–global gadget.
Karya Duto Hardono dan Banung Grahita pada pameran yang dihelat pada tanggal 18 Desember 2010 hingga 15 Januari 2011 di Selasar Sunaryo Art Space itu secara tidak langsung menjadi sebuah representasi dunia fantasi dan imajinasi geografis seniman muda yang hidup dalam dunia teknologi informasi. Tidak heran bila citraan yang dihadirkannya pada pameran itu tetap memiliki karakter lokal meski tetap menggunakan bahasa teknologi global.
Lantas, apakah karya-karya new media art memiliki posisi strategis di dalam perkembangan seni rupa Indonesia saat ini? Saya bisa katakan bahwa di era transisi pasar yang gamang dan repetitif secara massif dan politis ini memungkinkan. Teknologi yang berlimpah dari luar yang masuk ke dalam sistem budaya masyarakat muda di Indonesia saat ini selalu menawarkan ruang-ruang dan bentuk ekspresi yang makin beragam dan subyektif. Dan saya kira pertanyaan-pertanyaan mengenai seni rupa sekarang dianggap kontemporer dengan apa di Barat pada kurun waktu 10 tahun terakhir ini masih kontekstual. Teknologi informasi global saat ini memungkinkan berbagai masa dapat bertemu dalam satu ruang simulakra.
Di sinilah karya-karya new media art dapat mengambil posisi strategis sebagai bahasa visual yang merakyat secara estetis ketika hampir semua masyarakat global dapat membuat sesuatu yang estetis–secara subyektif tentunya. Selanjutnya, pasar seni rupa tinggal memilih mana yang disukai atau sekadar kagum saja dan meninggalkan ruang pameran. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar