
AKHIRNYA, “tahta” tertinggi kompetisi seni rupa Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) jatuh ke karya kreasi Anggun Priambodo. Seniman muda yang menetap di Jakarta ini mengetengahkan karya video art-nya yang bertajuk “Sinema Elektronik”. Dengan kemenangan ini, maka Anggun berhak mendapatkan hadiah utama berupa uang sejumlah Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) plus hadiah lain berupa kesempatan melakukan residensi ke mancanegara.
Para Dewan Juri yang terdiri dari Carla Bianpoen (jurnalis seni), Mella Jaarsma (seniman), Agus Suwage (seniman), Rifky Effendy (kurator), Hendro Wiyanto (kurator), Wiyu Wahono (kolektor seni) dan Syakieb Sungkar (kolektor seni), juga memutuskan tiga (3) Karya Terbaik, masing-masing karya instalasi lukisan kreasi Aditya Novali yang bertajuk “Mooi in (Die) series: Tommorow“, instalasi lukisan packing cargo bertajuk “Today Parcel” karya Erianto, dan “Mirror Sees Me Series“ karya Erika Ernawan yang berujud instalasi foto dan video performance. Ketiga seniman ini (juga) berhak mendapatkan penghargaan berupa residensi ke luar negeri, dengan pilihan antara negara-negara di Asia atau Eropa.
Menyeriusi yang Sepele
Di antara keempat penerima penghargaan tertinggi itu, posisi Erianto menjadi menarik. Anak muda yang mungil dan berambut panjang ini merupakan seniman yang selama ini banyak ditempa pengetahuan dan pengalaman berkeseniannya di Padang, Sumatra Barat, bukan di Jawa yang selama ini selalu mendominasi dalam tiap perhelatan yang kompetitif. Seniman lulusan Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang (UNP) dalam setengah tahun terakhir ini ulai menetap di Yogyakarta untuk meneruskan studi di pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Keberhasilannya pada perhelatan ini, bisa diduga, merupakan bagian penting dari kegigihannya untuk mengejar ketertinggalan yang dirasakannya ketimbang seniman lain terutama dari kawasan lain di lingkungannya.
Berikut ini hasil interviu singkat Indonesia Art News dengan seniman yang akrab disapa sebagai Mak Etek (Si Paman Kecil) sehari sebelum pengumuman BaCAA diuarkan ke publik.
Karya yang Anda ikutkan BaCAA itu judulnya apa? Apa konsep dasar dari karya tersebut?
TODAY PARCEL. Pada karya ini saya mengangkat hal yang kadang dianggap sepele, namun bagi saya menjadi hal yang amat serius, penting dan berarti yaitu sebuah paket (box).Karena menurut saya paket tersebut adalah sesuatu yang dirasa tidak lepas dalam berkesenian terutama dalam rangka menjaga dan memelihara karya seni, karena paket tersebut berperan penting demi keselamatan sebuah karya seni, Artinya apa? Dengan mengabaikan sebuah paket (box) berarti menyia-nyiakan apa yang ada di dalamnya apalagi itu sebuah karya seni.
Kemudian, secara proses karya ini memang karya 2 dimensi (lukisan) yang terdiri dari 3 panel, namun secara visual adalah suatu tumpukan paket yang terkesan belum dibuka, dan secara pendisplaiannya karya ini memang ditumpuk di lantai menyandar ke dinding. Jadi tidak lagi digantung. Hal ini merupakan sebuah dobrakan dari paradigma tentang seni rupa kita belakangan ini yang sedikit agak kaku, sehingga terjadi pengkotak-kotakan dalam seni rupa itu sendiri terutama pada karya seni.
Dengan berolah seni dan proses kreatif yang saya lakukan sehingga melahirkan sebuah karya yang beda dari karya yang lainnya, dimana karya ini memiliki multi-penafsiran, karena tidak lagi hanya sebagai karya seni lukis melainkan juga terlihat sebagai karya 3 dimensi atau instalasi. Dan ini merupakan sesuatu karya kreatif, dengan demikian karya ini mampu membuat paradigma baru seni rupa kita ke depan.
Ini tema dan gagasan baru, atau merupakan kelanjutan dari karya-karya Anda yang lain sebelum ini yang merupakan sebuah periode atau babak dalam proses kreatif selama ini?
Ya, memang tema baru. Dengan proses kreatif yang baru pula.
Apakah proses pembuatan karya ini Anda suntuki sebagai seniman yang penyendiri, atau Anda membuka diri dengan jalan berdiskusi, berdebat dan semacamnya hingga melahirkan karya?
Sebenarnya memang sebuah hasil perenungan dari sebuah pengalaman dari fenomena terutama yang permasalahan yang paling dekat dengan saya, mas.
Apakah karya tersebut dipersiapkan untuk kompetisi ini, atau “kerja sambilan” di sela kuliah S2 yang tentu menyita konsentrasi waktu dan perhatian?
Berawal dari proses saya tadi, aku coba mengeluarkan ide apa yang sedang terpikirkan dan menurutku sebuah gagasan yang cemerlang dan patut untuk disampaikan, sekaligus ada kompetisi dan secara tematik menurut saya sangat pas untuk mempublikasikan gagasan tersebut.
Kalau ada, apa sih nilai moral yang Anda tawarkan dari karya ini?
Kalau masalah pesan moral menurut saya sangat ada, terutama tentang pertanggungjawaban kita sebagai makhluk yang berbudaya, dimana dalam karya ini sebuah tuntutan untuk mengemas sebuah nilai-nilai budaya tersebut sebaik mungkin. Sekaligus sebagai kritikan terhadap kondisi sekarang terutama budaya kesenirupaan kita.
Apakah Anda juga menyadari bahwa karya Anda ini memiliki capaian yang kuat dibanding karya-karya Anda sebelumnya sehingga, minimal, bisa mencapai sebagai finalis?
Saya sangat menyadari, itu alasannya karya ini saya ikutkan dalam kompetisi ini
Setelah karya Anda jadi dan setidaknya menjadi finalis BaCAA, adakah hal yang Anda koreksi atas karya Anda ini, setidaknya koreksi itu muncul pada karya berikutnya?
Secara jujur untuk karya ini tdk ada koreksi lagi,namun untuk karya berikutnya,kalo bisa memang harus bisa lbih baik,otomatis dari sisi yang lain
Lebih dari setengah tahun Anda menetap di Yogyakarta untuk kepentingan studi S2. Hal apa sajakah yang telah Anda rasakan dan dapatkan?
Rasanya cukup banyak, terutama selain kondisi S2 adalah keadaan di Jogja, saya mendapat kondisi dan situasi yang baru terutama dalam iklim berkesenian yang sangat kompetitif.
Masukan dan kebaruan yang Anda dapatkan selama di Yogyakarta, terasa datang dari ranah studi atau justru di luar kampus?
Dua-duanya. Di kampus saya lebih banyak dapat ilmu secara teoritis, namun scara semangat saya dapat dari lingkungan sekitar.
Kalau Anda masuk 3 Besar BaCAA dan berkesempatan untuk residensi di mancanegara, apa target yang ingin disasar?
Ya, secara mendasar aku berfikir ingin mendapatkan ilmu dimana saja dan mencari pengalaman dari apa yang dilaksanakan. Tapi yang jelas seandainya itu terjadi saya akan mamfaatkan momen itu sebaik mungkin, dan itu sebagai motivasi demi proses kreatif ke depan.
Sebagai seniman yang selama ini banyak dibesarkan di Ranah Minang, apa pengharapan Anda setelah studi di Yogyakarta?
Kalau yang diharapkan sangat banyak. Tapi intinya adalah bagaimana kondisi atau iklim berkesenian daerah bisa setara dengan kondisi yang ada di pusat, karena daerah merupaka bagian dari pusat, semoga maju dan tetap bersengat. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar