Seni Rupa dalam Kuasa Tuhan dan Pasar




SITUASI dan perkembangan seni rupa pada kurun 2000-an hingga kini, pada akhirnya, memunculkan  kekuatan yang tak tampak (invisible hand) namun begitu kuat pengaruhnya dan terbagi dalam dua “kekuatan”, yakni Tuhan dan pasar (the invisible hand of God dan the invisible of market). Point yang diketengahkan Esche di atas memang seperti sebuah kepasrahan. Tapi faktanya, hal itulah yang terjadi. Pasar menjadi kekuatan yang selalu mewarnai dalam tiap perhelatan seni rupa. Dan Tuhan ditempatkan dalam posisi yang satiris sebagai “pengimbang” karena kuatnya kekuatan pasar itu. Inilah salah satu point yang disampaikan oleh Charles Esche, kurator seni rupa asal Jerman dalam kuliah umum (public lecture) di auditorium Lembaga Indonesia Prancis (LIP), Senin, 10 Januari 2011. Acara yang dihelat oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Yayasan Biennale Yogyakarta, dan Ruangrupa ini mengetengahkan tema pokok menarik Decentralization of Biennales: The Changes of Geographies and Directions of Contemporary Art Post 2000s.


Pada bagian awal paparan kuliahnya, advisor Rijksakademie dan Direktur Van Abbe Museum, Eindhoven, Belanda ini mengilustrasikan bahwa antara kurun 1998-2008 terjadi banyak perubahan dalam perkembangan seni rupa dunia. Tiga hal penting yang ditengarai sebagai hal penting oleh Esche adalah “temuan” Asia, yakni ketika nilai-nilai lokal Asia banyak diketengahkan dan diserap secara lebih meluas, lalu menguatnya budaya visual sebagai bahasa komunikasi, dan makin tajamnya pengaruh kurator dan aspek kepengarangan dalam kuratorial pameran seni rupa. Realitas ini tentu telah bergeser dari masa-masa sebelumnya ketika “temuan” Eropa dengan segala nilainya banyak mendominasi bahkan hegemonik dalam perbincangan di seni rupa dunia. Juga besarnya peran-peran negara dalam menentukan kompetisi.

Hal menarik yang juga disampaikan oleh Esche adalah bahwa pada kurun 2008 hingga sekarang ini merupakan masa-masa ketika biennale berkompetisi secara ketat dengan berbagai artfair yang bertaburan di banyak negara, termasuk di negara-negara di kawasan Asia sebagai kekuatan baru dan tangguh. Misalnya, tentu saja, China. Namun demikian keberadaan biennale masih tetap dibutuhkan ketika sebuah kawasan atau negara ingin survive sebagai meeting point yang penting dan diperhitungkan. Artfair dianggapnya tetap penting, namun sepertinya lebih banyak “sekadar” making money (mengeruk keuntungan). Sedang biennale bisa dimungkinkan membuat tantangan-tantangan dan pengalaman-pengalaman estetik bagi seniman dan masyarakatnya.

Sementara pada kurun yang sama, menurut pengamatan Esche, Eropa mulai terasa mengurangi bantuan pendanaan (bagi lembaga-lembaga) kebudayaan di kawasan (seperti) Asia yang selama ini rajin “menyusu” (pada Eropa). Tafsir atas point itu, tentu, mengasumsikan bahwa (gerakan kebudayaan di) Asia telah mulai mandiri, atau sebaliknya, Eropa ingin kembali memperkuat dirinya yang telah mulai digerogoti dominasinya oleh Asia. Atas poin-poin ini, Esche bertanya: apakah inilah saatnya berbagai tantangan dan kemungkinan akan terbuka, atau sebaliknya, saatnya keruntuhan radikal (akan) terjadi? (moment of challenge and possibility or moment of radical collapse?)

Kuliah umum yang (pada awalnya) dihadiri sekitar 75-an dilengkapi pula oleh dua penanggap, yakni Nindityo Adipurnomo dari Cemeti Art House, dan Alia Swastika, kurator independen. Charles Esche pun kian bersemangat untuk melontarkan gagasan, pendapat dan pengalamannya ketika sesi tanya-jawab dengan peserta terjadi. Acara yang dimulai sekitar pukul 16.30 itu pun berakhir hingga sekitar 20.30 dengan diselingi rehat selama setengah jam.

Segelintir publik seni rupa Yogyakarta, sore itu, kiranya mendapatkan banyak pembelajaran dari kurator seni rupa kelahiran Inggris tahun 1962 yang juga
co-founder dan co-editor jurnal Afterall 
ini. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar