Perupa Muda Yogyakarta Tak Terikat

 
"Dry your tears, Teach me how to luv u! Haus cinta". Begitu masuk Gedung C Galeri Nasional Jakarta, mata segera disergap berbagai bentuk gambar warna-warni dengan torehan tulisan-tulisan seperti itu. Seluruh dinding menjadi kanvas untuk kreasi belasan perupa muda. Nyaris seperti deretan graffiti, dengan balon-balon komik berisi hati merah menjadi "perekat" semua bentuk-bentuk itu. Cita rasa urban begitu terasa.

Kesan pertama itu begitu kuat saat menengok pameran Bohemian Carnival di gedung C Galeri Nasional Jakarta. Para perupa berkolaborasi menuangkan lukisan bersama-sama. Hasilnya adalah ruangan yang mendadak terasa ramai dan hiruk-pikuk. Dari bentuk siluet orang yang kakinya digambar hingga ke tegel hingga sosok tengkorak kartunik yang topinya dilukis hingga menyentuh langit-langit ruangan.

Melangkah ke ruang-ruang selanjutnya, barulah kita melihat karya-karya individual para perupa. Seluruhnya ada 18 orang. Paling tua berusia 33 tahun, yang termuda kelahiran 1984. Dengan ciri masing-masing, mereka dengan bebas berkarya, menabrak-nabrakkan pakem, tetapi tetap berpegang pada figur.

Tengok salah satu karya Sigit Bapak, 33 tahun. Sebuah boneka perempuan dilukis tergeletak. Lengkungan mulut boneka itu menyiratkan kesedihan. Matanya tak terlihat, digantikan garis hitam yang mengeblok kedua mata. Ada tulisan huruf cetak: "ini wati", mengingatkan pada kakaknya si Budi, tokoh dari buku pelajaran membaca di sekolah dasar (era 80-an). Eh, tapi lukisan itu dijuduli Ini bukan Wati karena si Wati sedang membantu ibu memasak di dapur.

Permainan" dengan kenangan masa lalu juga ditunjukkan oleh Teguh Hariyanta, 29 tahun, melalui Melaju Membawa Masa Kecilku. Memakai teknik cetak woodcut, seperti pada karya-karya lainnya, dia menggambar baskom berisi air dengan foto bayi mengapung tak jauh dari mainan kapal. Mainan kapal ini dulu banyak dijual di pasar-pasar, berbahan kaleng bekas, biasa diisi minyak tanah untuk "bahan bakar". Teguh kerap bergiat dengan seni mural, yang telah mengantarnya ke Jepang dan Spanyol.

Gintani Nur Apresia Swastika, 25 tahun, mencoba kolase kain. Di atas kain, dia mencetak foto tua gedung Bank Indonesia di Yogyakarta. Tampak becak-becak lalu lalang. Tapi Gintani menambahkan sebuah mobil berwarna merah, terbuat dari kain dengan detail-detail jahitan benang wol. Judulnya Effortless--tanpa usaha. Idenya mempertemukan dua moda transportasi, juga dua teknik "menggambar", sudah pasti bukan tanpa usaha.

Ada juga Rona Mahendra, 30 tahun, yang bermain dengan pelesetan Superman lewat Super Love Man dan The Queer. Pada The Queer, logo Superman (huruf S) diganti dengan huruf Q--banci. Sang "superman" masih berbaju biru dan berjubah merah, tapi dengan gerak tangan gemulai. Bunga dan bando melekat di rambut. Dari mulutnya, Rona menggambar pola-pola yang menyimbolkan tutur mendayu-dayu. "Saya bermain-main dengan sesuatu yang aneh. Menabrakkan pakem yang sudah ada adalah sesuatu yang menyenangkan," kata dia.

Kurator pameran, Farah Wardani, sengaja memilih ke-18 perupa Yogyakarta ini. Ini boleh dibilang merupakan upaya untuk mendefinisikan kembali praktek seniman kontemporer muda Jogja. Mereka adalah orang-orang muda yang, karena tumbuh di kultur yang mendukung, bebas dalam berkarya. Para seniman yang bergiat dalam subkultur dan gaya hidup bohemian.

"Yogyakarta adalah tempat pilihan ideal untuk cara hidup (seniman) Bohemian," kata Farah dalam nota kuratorialnya. Di sana, kata dia, para perupa bisa mengembangkan kreativitas dalam situasi lingkungan yang mendukung dan menghargai mereka. Bohemian Jogja adalah campuran kota-desa, tradisional-modern dan seterusnya.

Menarik untuk melihat geliat perupa-perupa muda Yogyakarta, untuk kemudian dibandingkan dengan seniman muda dari Bandung--tempat seni tumbuh bersama konsumerisme. Di Galeri Nasional, awal tahun ini, digelar Bandung Art Now. Galeri seperti SIGIarts di Jakarta Selatan juga kerap memunculkan karya-karya perupa muda Bandung. Di Bandung, tampaknya, para perupa tak malu menggeluti karya-karya trimatra, juga menggeluti saluran lain seperti video dan foto. Perupa Yogyakarta menunjukkan bahwa dua dimensi masih menarik untuk diobservasi.

Tapi, benang merah yang sama dari perupa-perupa muda kedua kota adalah mereka sama-sama tak merasa terikat pada tradisi dan sejarah seni. Bohemian yang bebas.

Sumber:tempointeraktif.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar