Seni Rupa dan Realitas yang Berjarak


MENGAPRESIASI karya seni rupa saat ini bisa menggunakan beragam cara. Boleh hanya melihat saja seperti window shopping, membeli lukisan karena rasa suka, boleh juga membelinya untuk dijual di balai lelang, atau mengapresiasi karya itu setelah melihat, mengamati, mempelajari sembari mencoba mengerti lalu berdialog dengan perupanya hingga kemudian membelinya sebagai benda koleksi.

Lagi-lagi, pameran karya seni rupa seperti menutup mata di tengah situasi pasar seni rupa yang sedang ‘sunyi’ ini –terkecuali karya beberapa seniman yang sedang diburu kolektornya- namun tetap saja memamerkan karyanya untuk diapresiasi publik atau menciptakan minat kolektor-kolektor baru. Semuanya sah saja sepanjang karya itu memang sebuah ekspresi personal seniman atau perupanya.

Demikian juga dengan Rudayat kali ini. Persepsi kita mengenai arketif budaya jalanan agak sedikit diganggu saat melihat lukisan-lukisan foto-realis dan seni rupa jalanan versi Rudayat. Sebelas lukisan dan beberapa gambar grafiti di dinding ruang pajang galeri Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, juga mengganggu persepsi ruang pameran lukisan. Pada karya-karya yang sedang dipamerkan dari tanggal 24 September hingga 11 Oktober 2010 ini, latar belakang realis dengan objek dinding-dinding ruang urban diganggu oleh figur-figur mengambang dan datar. Lukisan realis yang biasanya ilusif dengan kaidah perspektif dan mimetiknya didekonstruksi Rudayat dengan citraan-citraan figur stensilan. Sang kurator pun mewacanakan dua metode yang sinyalir digunakan Rudayat dalam pameran tunggalnya yang bertajuk “de-illusion”, yaitu foto-realis dan grafiti sebagai penegasan sisi kreatif Rudayat pada karya-karya yang dipamerkan kali ini.

Kecenderungan fotografis pada produksi artistik pelukis kian kuat pada karya-karya Rudayat belakangan ini. Kali ini lapisan-lapisan mimetik itu diujarkan secara cukup artikulatif, bahwa persoalan manusia saat ini dapat dibaca melalui lapisan-lapisan citraan yang hadir di sudut-sudut ruang publik urban. Proses kreatif Rudayat memang menggunakan fotografi untuk memindai citraan-citraan yang dikonsumsi masyarakat di dunia maya dan beberapa diambil dari sudut-sudut jalan yang dianggap menarik oleh perupa yang satu ini. Fotografi bagi beberapa pelukis masih dianggap efektif untuk mengumpulkan citraan yang akan dibubuhkan pada bidang kanvas sebagai lukisannya. Maka kesan kedataran atau flatness dari kesan sebuah foto ditekankan dalam pameran ini, bahwa foto memang flat. Dua dimensi saja.

Rudayat menegaskan bahwa figur-figur di atas bidang kanvasnya tidak semua hasil fotografinya sendiri. “Beberapa image diambil dari internet dan komputer. Foto yang terkenal itu juga diambil dari internet,” kata Rudayat usai pembukaan pameran tunggalnya.

Rudayat dikenal tekun menggarap lukisan-lukisannya secara teknis karena skill-nya memang cukup baik. Meski pasar seni rupa kontemporer (lukisan) kini sedang lesu, semangat Rudayat sebagai perupa muda tak membuatnya urung menyajikan karya-karya terbaru dengan metoda ini. Diskursus Jacques Derrida tidak hanya bermartabat bagi kehadiran teks dalam karya sastra atau teks-teks filsafat yang mencurigakan bagi sang Dekonstruksionis untuk dikritik atau dibongkar secara analaitis pasca-strukturalis, kehadiran tanda-tanda visual pada lukisan seperti yang digarap Rudayat cukup menarik juga digunakan untuk menemukan makna-makna baru atas kehadiran lapisan-lapisan visual di atas bidang kanvas.

Rudayat tidak serta merta menganggap 'kehadiran tanda-tanda' kasat mata yang diciptakan melalui sapuan kuas sebagai sesuatu yang 'mencurigakan' karena Rudayat memposisikan tanda-tanda itu sebagai hal yang mengganggu persepsi optis mata kita saja. Lapisan-lapisan itu sengaja hadir mengecoh persepsi dan kesadaran apresian untuk membaca pikiran-pikiran si perupanya. Namun demikian istilah dekonstruksi pada kupasan karya lukis di pameran ini memang tidak tepat karena sebatas just uses it’s discourse.

Sejauh mana gangguan berupa lapisan-lapisan ilutif itu sukses 'mengganggu' apresian bahkan kolektor untuk membeli lukisannya. Di sana Asmudjo Jono Irianto, kurator pameran, menguatkan pewacanaan lukisan-lukisan Rudayat melalui catatan-catatannya.

"Pertama, kalaupun kesan ilusif yang kita tetapkan, maka kesan ilusif yang tampil adalah kesan ilusif yang kacau dan tidka logis, bagaimana mungkin sosok-sosok grafiti tersebut ‘melayang’ menjauhi dinding? Dengan kata lain, sosok-sosok grafiti tersebut mengacaukan dan menganulir logika tuang ilusif pada lukisan foto-realis Rudayat. Itu yang saya sebut sebagai de-illusion pada lukisan Rudayat, hilangnya ilusi ruang yang logis. Kedua, kita justru dapat menempatkan lukisan Rudayat sebagai pernyataan dan penekanan ‘kedataran’ bagi citraan ilusif, semacam pernyataan flatness Greenbergian dan superflat Murakamian. Istimewanya, Rudayat menyatakan kedataran tersebut degan menggunakan tampilan foto-realis. Dalam hal ini, apa yang dilakukan Rudayat bisa sesungguh-sungguhnya disebut de-illusion terhadap citraan yang seolah ilusif," tulis Asmudjo Jono Irianto dalam katalog pameran ini.

Penulis tertarik pada modus operandi perupa saat ini yang mengonsumsi teknologi dalam proses kreatifnya. Tidak hanya Rudayat tapi perupa lain yang dikejar-kejar dateline pameran atau kuota portofolionya sebagai seniman muda di ranah seni rupa kontemporer lokal (Indonesia). Pada pameran ini konsumsi visual menjadi target pameran dimana kolektor yang berminat dapat segera memindahkan karya itu ke ruang private-nya sebagai benda koleksi atau barang dagangan di pasar lukisan. Konsumsi visual seperti halnya karya fotografi memang dapat diaplikasikan ke dalam berbagai genre seni rupa, terutama lukisan, karena menurut sejarahnya lukisan dan fotografi sama-sama mengejar pasar seperti yang dilakukan seniman-seniman Eropa di pertengahan abad ke-18 seperti yang ditulis oleh Ross King (2006) dalam bukunya yang berjudul The Judgment of Paris pada bagian “Monet or Manet?”.

Jonathan E. Schroeder (2002) dalam Visual Consumption juga menegaskan budaya konsumsi visual di masyarakat global belakangan ini. Schroeder menulis di halaman 46 bahwa, “The framework of visual consumption is an attempt to capture the complex interaction between consuming and producing representation in visual culture, dominated by marketing images.” Budaya rupa, citraan, tampilan yang syarat dengan produksi konsumsi tidak bisa lepas dari sistem ekonomi sebagaimana yang sudah ditegaskan oleh para kurator di Amerika, bahwa seni rupa kontemporer memang melulu ekonomi dan karya seni sebagai objek komoditas untuk merayakan budaya kapitalis. Karya Rudayat tentu saja termasuk di dalamnya. Lukisan dengan metoda artistik dan pewacanaan kuratornya lagi-lagi memang berjarak dengan realitas yang sesungguhnya. Paling tidak persoalan citraan ilusif yang muncul dari sebuah lukisan menurut amatan perupa dapat menjadi konsumsi visual yang lain di tengah komoditi visual yang gencar menjual isu di media massa. Rudayat pada pameran ini, dengan praktik apropriasinya, dapat dikatakan sebagai alternatif pencerahan di tengah praktik konsumsi artistik di tanah air. Dinding-dinding urban dijadikan objek lukisannya dengan imbuhan citraan yang sudah dikonsumsi masyarakat di muka bumi ini. ***

New Media Art di Era Transisi



WACANA seni rupa kontemporer di Indonesia akhir-akhir ini seperti dikritisi dengan cukup serius oleh semua pihak, apalagi di ruang diskusi seperti art market. Seolah-olah banyak pihak merasa kecolongan dengan banjirnya karya seni rupa kontemporer yang sangat terbuka dan bebas atas nama kebebasan berekspresi. Situasi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi art market yang sedang lesu dan persoalan sandiwara politik yang gencar mengisi halaman dan tayangan media massa.


Tentu saja dibutuhkan strategi yang konstruktif untuk menjaga energi kreatif dan pasar seni rupa yang terus bergairah setelah gerakan masif seni rupa dengan ilusi-ilusi foto-realis pada karya dua dimensi. Saya mengamati memang ada kecenderungan sebuah era transisi untuk menjembatani gairah seni rupa kontemporer dengan kehadiran pelaku pasar yang baru, yaitu invasi media baru di pameran-pameran. Pada era ini saya boleh menyatakan bahwa gerakan seni rupa yang diusung oleh komunitas seni RuangRupa mulai menguat dan menjadi sorotan apresiasi pasar seni rupa saat ini.

Pada penghujung tahun 2010 kemarin wacana new media art ditawarkan kembali oleh Selasar Sunaryo Art Space, melalui garapan kuratorial Agung Hujatnikajenong, menggelar proyek pameran tunggal sekaligus yaitu Banung Grahita dan Duto Hardono. Banung Grahita, seniman muda dengan intensitas pada karya new media art menyajikan banyak menggunakan video, animasi dan media interaktif. Medium itu digarap untuk bercerita. Karya animasinya menyuguhkan gambaran-gambaran fantasi tentang kekuasaan media dalam mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat yang diungkapkan dalam gaya bahasa yang ironis dan sarkastik. Proyek “Profanity Prayers” ini berupa rangkaian video animasi, drawing dan cetak digital, dengan garapan seni yang membidik kehidupan masyarakat kontemporer dengan sistem komunikasi media yang dianggap mengubah manusia menjadi makhluk baru yang tunduk pada Tuhan dan agama media baru.

Duto Hardono mengeksplorasi kemungkinan bahasa visual dengan karya yang mencakup suara, gambar, video dan performance art. Tema kekaryaan “Good Love/Bad Joke” yang dipamerkan di Ruang B, Selasar Sunaryo Art Space, terdiri dari beberapa karya baru berupa rangkaian gambar dan kolase, rekaman suara dan film, serta performance tentang repetisi, pengulangan, penundaan. Karya-karyanya banyak terinspirasi dari beragam sumber mulai dari karya kriya, budaya pop, gerakan anti-seni, humor suram dan nihilisme.

Agung Hujatnikajenong pada catatan kurasi pameran ini menulis bahwa, ”karya-karya Duto Hardono pada dasarnya mewakili ketertarikannya pada keadaan-keadaan yang gamang dalam persepsi dan emosi manusia: situasi berada ‘di antara’; skeptisisme pada kemapanan dan objektifitas; sikap pasrah pada ketakpastian jawaban suatu pertanyaan. Dan di tengah-tengah semua itu ia menggunakan keseniannya sebagai katup pelepasan hasrat. Ia menjadikan kegamangannya sebagai motif untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis, tentang seni itu sendiri, tentang manusia, tentang waktu dan ingatan.” Dan apakah ini simbol dari kegelisahan seniman muda terhadap situasi Indonesia saat ini, bisa jadi demikian. Karya-karya gambar dengan materi kolase hingga membentuk satu ruang abstraksi meninggalkan jejak kegamangan Duto Hardono sekaligus kegamangan bangsa ini terhadap hidup berbangsa dan bernegara.

Karya Duto Hardono, bila ditinjau secara politik, patut diposisikan sebagai bentuk kesenian yang ekspresif dari segelintir masyarakat muda Indonesia, seniman, dalam melihat situasi bangsanya saat ini. Sebanyak 10 gambar abstrak dengan teknik kolase dan 5 buah karya kolase dari kumpulan gambar-gambar binatang, organ tubuh dan tumbuhan, itu semua mengartikulasikan konsep repetisi, putaran dan penundaan yang dikuatkan lagi melalui karya suara/performance serta pemutaran video yang ditayangkan berulang-ulang di salah satu sudut ruang pamerannya.

Salah satu karya yang paling kuat di antara semua karya Duto Hardono adalah “John Cage’s Painting” dengan material framed blank canvas, etched plate, certificate of authenticity berukuran 50x90 cm. Duto mengakui beberapa karyanya dipengaruhi oleh gerakan seni rupa Fluxus yang muncul di Eropa Timur pada awal abad ke-19. Karya itu memang tidak menyajikan sebuah lukisan dengan aliran dan gaya tertentu, hanya bidang putih yang bukan kosong. Duto mencoba mengartikulasikan praktik filsafat pada karya tersebut. Bidang putih dan tidak ada garis atau titik itu jelas merupakan gambaran ilusi dari situasi bangsa ini atau bahkan seni rupa kontemporer Indonesia itu sendiri.

Demikian pula dengan karya Banung Grahita yang didominasi oleh karya-karya looping video. Citraan figur yang diambil/dikutip oleh Banung tidak saja merespons budaya komunikasi masa saat ini yang sangat bergantung pada media visual (sampah-sampah di televisi, film, video klip, tayangan berita), akan tetapi menjadi simbolisme atas kehadiran figur-figur hedon dan hegemonik dalam tayangan televisi setiap hari. Figur itu kemudian dirancang menjadi makhluk mutan yang bercerita dalam videonya yang dikerjakan dengan cara kerja animasi. Kesan surealis dan anomali pada kehadiran figur-figur tersebut sepertinya menjadi upaya Banung dalam menggarap konsep visual dengan narasi dekonstruksi dari mitos-mitos masyarakat kontemporer yang selalu berhubungan dengan dunia maya, jejaring sosial, dan budaya visual dari mesin-mesin budaya baru–global gadget.    

Karya Duto Hardono dan Banung Grahita pada pameran yang dihelat pada tanggal 18 Desember 2010 hingga 15 Januari 2011 di Selasar Sunaryo Art Space itu secara tidak langsung menjadi sebuah representasi dunia fantasi dan imajinasi geografis seniman muda yang hidup dalam dunia teknologi informasi. Tidak heran bila citraan yang dihadirkannya pada pameran itu tetap memiliki karakter lokal meski tetap menggunakan bahasa teknologi global.

Lantas, apakah karya-karya new media art memiliki posisi strategis di dalam perkembangan seni rupa Indonesia saat ini? Saya bisa katakan bahwa di era transisi pasar yang gamang dan repetitif secara massif dan politis ini memungkinkan. Teknologi yang berlimpah dari luar yang masuk ke dalam sistem budaya masyarakat muda di Indonesia saat ini selalu menawarkan ruang-ruang dan bentuk ekspresi yang makin beragam dan subyektif. Dan saya kira pertanyaan-pertanyaan mengenai seni rupa sekarang dianggap kontemporer dengan apa di Barat pada kurun waktu 10 tahun terakhir ini masih kontekstual. Teknologi informasi global saat ini memungkinkan berbagai masa dapat bertemu dalam satu ruang simulakra.

Di sinilah karya-karya new media art dapat mengambil posisi strategis sebagai bahasa visual yang merakyat secara estetis ketika hampir semua masyarakat global dapat membuat sesuatu yang estetis–secara subyektif tentunya. Selanjutnya, pasar seni rupa tinggal memilih mana yang disukai atau sekadar kagum saja dan meninggalkan ruang pameran. ***

Abad yang (Di)gelisah(kan)




MALAM itu, pukul 20.00 WIB, Rabu, 19 Januari  2011, pameran yang bertajuk “The Age of Restlessness” di North Art Space (NAS) Ancol Jakarta, dibuka. Pameran ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan program Artist Residency di Pasar Seni Ancol. Program residensi tersebut merupakan pengembangan dari program Transit yang sudah diadakan sejak lama, perbedaan paling mendasar dari program residensi kali ini adalah adanya keikutsertaan Kurator dalam proses penyeleksian perupa yang ikut dalam program ini. Dalam program residensi ini, peserta dipilih dari perupa-perupa yang baru saja selesai menempuh pendidikan formal di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Para perupa itu lain Lutfi Anwar (IKJ), Walid Syarthowi Basmallah (IKJ), Michael Binuko (ITB), Patriot Mukmin (ITB), Rizki Andina (ITB), Saroni (ISI), Sutrisno (ISI), dan Muhamad Yusuf Siregar (ISI). Selama 6 bulan, perupa-perupa tersebut mengadakan diskusi, dan berkomunikasi, serta bertukar pikiran baik sesama perupa maupun masyarakat lingkungan sekitar guna meningkatkan kualitas kekaryaannya.

Dalam program residensi ini, Rifky Efendy, selaku kurator dari NAS mengajukan tema yang berhubungan dengan fenomena-fenomena masyarakat yang terjadi pada era teknologi-informasi ini. Tajuk “The Age of Restlessness” merupakan ungkapan dari kegelisahan jaman yang dirasakan oleh generasi-generasi muda dalam era media-teknologi dan informasi saat ini yang telah mengkonstruksi realita kehidupan sehari-hari. Perupa-perupa muda yang merupakan perwakilan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia (ISI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), diharapkan dapat berinteraksi dan berkreativitas dalam bentuk fisik maupun non-fisik dalam merespon era tersebut.

Secara keseluruhan, pameran ini berlangsung cukup baik, didukung dengan fasilitas tempat berpameran yang kondusif dan suasana yang tertib, North Art Space tidak diragukan lagi merupakan galeri yang cukup profesional dalam menjalankan program kegiatannya. Sayangnya ada sedikit kekecewaan pada pengunjung yang tampaknya tidak mendapatkan katalog jika bukan pihak undangan. Selain itu, meskipun hal ini ditentukan kebijakan para perupa dan kurator, namun ditiadakannya proses diskusi atau artist talk dalam sebuah pameran yang bersifat residensif, tampaknya mengurangi nilai lebih yang harusnya dapat ditonjolkan oleh pameran ini. Pengujian kompetensi sebuah residensi seharusnya dapat dilihat dari sejauh mana tema yang disodorkan oleh kurator dapat direspons oleh para perupa.

Review Karya

Dalam pameran ini, karya-karya Lutfi Anwar yang bertemakan ‘Refreshing’, cukup menarik perhatian. Lutfi menggunakan keramik sebagai media dalam karya-karyanya. Objek-objek dan bentuk yang familiar dengan kehidupan sehari-hari seperti sepatu, ikan dan Dinosaurus menjadi kelebihan karya ini. Penggunaan bahasa rupa yang dipilih oleh Lutfi Anwar memudahkan apresian awam untuk memahami maksud yang ingin disampaikannya. Merujuk pada katalog, Lutfi mengambil tema refreshing untuk melupakan sejenak kepenatan yang dialami manusia dalam era teknologi-informasi ini. Sayangnya karya-karya Lutfi terlalu bersifat deskriptif, objek-objek yang ditampilkan pun cenderung hanya merupakan jiplakan dari benda aslinya. Selain itu, tema refreshing yang ditawarkan bersifat tertutup, hanya berlaku bagi perupanya, ada baiknya juga jika apresian diajak juga untuk refreshing.

Karya-karya Walid Syarthowi Basmallah mungkin kebalikan dari karya Lutfi Anwar, jika karya Lutfi cenderung bertujuan untuk melupakan kepenatan yang hadir di sekitar kita, karya Walid justru mengajak audiens untuk mencari masalah-masalah yang ada namun terlupakan oleh kita. Walid mengambil tema ‘Refleksi Berita Hari Ini’, dalam karya-karyanya Walid mencoba memperlihatkan masalah sosial yang terlupakan, atau dilupakan, atau pura-pura dilupakan oleh kita. Walid menggunakan teknik cetak saring atau lebih dikenal dengan sablon di atas potongan balok pohon kayu, yang digabungkan dengan kaca. Pada balok-balok kayu tersebut terdapat sablonan yang memperlihatkan masalah-masalah realita sosial, pada balok-balok lainnya selain menampilkan masalah sosial, walid menggunakan kaca yang di dalamnya terdapat sablonan ikon-ikon kemewahan. Pada karya ini, jelas sekali usaha Walid untuk menyampaikan kekontrasan yang ada dalam realitas sosial. Karya ini menarik untuk dibahas lebih lanjut. Ada beberapa pertanyaan yang timbul setelah menyaksikan karya ini, misalnya alasan penggunaan balok pohon sebagai media sablon, atau ukuran balok kayu dan kaca yang digunakan, dan kurang fokusnya batasan tema yang diangkat oleh Walid, misalnya, realitas sosial yang mana yang ingin diangkat oleh Walid? Kemiskinan? Politik? Prostitusi? Jika membandingkan pernyataan dan karya Walid hal tersebut belum terjawab.

Cukup mirip dengan Walid, Michael Binuko juga berbicara mengenai kekontrasan realita social. Bedanya, dalam karya-karyanya, Michael Binuko yang akrab dipanggil Koko ini membicarakan realita tersebut dengan alam sebagai objeknya. Koko, dalam karya-karyanya menampilkan tempat-tempat di wilayah Komplek Taman Impian Jaya Ancol yang pada umumnya tidak dapat dikunjungi oleh wisatawan. Dalam pameran ini, Koko cenderung menampilkan plat etsanya yang merupakan cetakkan negatif dari teknik etsa dan karya fotografinya. Sama seperti Ancol yang dikenal sebagai ‘Taman Impian’ namun ternyata di kawasannya terdapat tempat-tempat berkondisi jauh dari ‘impian’, upaya Koko dalam menampilkan cetakan negatif dari karyanya menunjukan sikapnya terhadap kondisi alam dan—mungkin—lingkungan yang terlupakan di kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Sayangnya ukuran yang kurang besar mengurangi efek “wah” yang dapat ditampilkan karya-karyanya.

Jika dibandingkan dengan perupa-perupa sebelumnya, Patriot Mukmin boleh dibilang berbeda dalam pilihan tema yang diangkatnya. Patriot mengangkat ‘Narcissus in Modern Land’ sebagai tema berkarya, Dalam karyanya, Patriot mencoba mengangkat gejala-gejala sifat ‘narsis’ yang timbul pada era teknologi-informasi ini. Kebiasan untuk memfoto diri sendiri melalui lensa kamera merupakan fenomena yang diangkat oleh Patriot. Sebetulnya fenomena ini cukup menarik untuk diolah lebih lanjut, sayangnya pada pameran ini Patriot cenderung membatasi fenomena sifat narsis ini hanya pada penggunaan lensa kamera dan cermin, padahal jika ditelaah lebih lanjut masih banyak teknologi yang dimanfaatkan untuk kepentingan ‘kenarsisan’ lainnya. Mirip seperti karya Lutfi, deskripsi yang ditampilkan Patriot pada kebanyakan karyanya menjadi nilai minus dalam karya-karyanya.

Sebagai satu-satunya perupa wanita dalam program residensi ini, karya-karya Rizki Andina menjadi angin segar untuk dibahas. Rizki Andina yang akrab disapa Iqi ini membahas tubuh perempuan dalam karya-karyanya, Iqi membahas konstruksivitas ideal dan seksual bagi tubuh perempuan, baginya, ideal-seksual tidaknya tubuh wanita bersifat personal, dan kedua hal tersebut seharusnya tidak menutupi nilai-nilai lain pada tubuh perempuan. Pada karya-karyanya, Iqi menggunakan keramik, fotografi, kuningan dan benang sebagai media pada karya-karyanya. Ada tiga kecenderungan fokus dalam pengayaan karya Iqi, pertama ia menggunakan organ-organ tubuh yang, boleh dibilang, tidak memiliki nilai seksual (bahkan menjijikan) bagi masyarakat saat ini, padahal mempunyai hubungan yang erat dengan seksualitas, seperti misalnya tuba valopi (CMiIW), plasenta, dan janin. Objek tersebut lalu diangkatnya menjadi karya ornamentik yang menarik. Kecenderungan kedua, Iqi mengolah image ‘ideal’ menjadi sesuatu yang bersifat sepele. Misalnya, image-image yang dianggap ideal oleh masyarakat saat dijadikan gambar pada kantung teh atau pada luberan air dari teko. Konstruksi ‘ideal’—mungkin—dianggap Iqi, bersifat sama seperti teh yang larut dalam air atau  air tumpah dari teko. Kecenderungan terakhir yang dilakukan Iqi dalam membuat karyanya adalah upayanya mengajukan konsep ideal bagi tubuh perempuan dari kegiatan yang dilakukannya dalam kehidupan seperti berkebun, memasak dan berpakaian.

Dalam pameran ini, Saroni menjadi satu-satunya perupa yang mengambil media patung sebagai teknik berkaryanya. Saroni mengangkat tema tidur dalam karya-karyanya, sedikit mirip dengan Lutfi, Saroni menganggap tidur sebagai usaha untuk keluar dari kepenatan dan beristirahat sejenak. Dalam karya-karyanya Saroni menggunakan material resin sebagai bahan dasar, yang kemudian diolah menjadi objek. Saroni mengangkat realita sosial yang ada dalam masyarakat kelas bawah, dimana bagi mereka tidur adalah sebuah ekslusivitas tersendiri ditengah penatnya kehidupan mereka. Sebagai satu-satunya perupa patung dalam residensi kali ini, karya-karya Saroni cukup menarik. Sayangnya, fokusnya Saroni dalam memunculkan ‘tidur’ tidak tampak pada seluruh karyanya. Seperti misalnya pada karya eksploprasi yang menggunakan poly-uretan sebagai materialnya, kehadiran karya ini justru mengganggu keutuhan tema ‘tidur’ pada karya-karya Saroni.

‘The Power of Love’ adalah tema yang diangkat Sutrisno sebagai landasan berkaryanya, dengan menggunakan media cukil kayu dan kolase, Sutrisno menampilkan kekuatan cinta kasih dan kasih sayang antar sesama manusia. Baginya kekuatan yang berasal dari cinta kasih dan kasih sayang sangatlah luar biasa pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Dalam karya-karyanya, tema cinta yang diangkat adalah cinta pada ibu, cinta tanah air, dan cinta pada wanita. Namun, sayangnya karya-karya Sutrisno mempunyai keterbatasan dalam menyampaikan pesan cinta yang dimaksud. Tampaknya, luasnya tema yang dipilih oleh Sutrisno menjadi kesulitan tersendiri bagi Sutrisno untuk memfokuskan karya-karyanya.

Muhamad Yusuf Siregar dalam karya tunggalnya yang berjudul “Ruang Tamu Ibukota” boleh dikatakan sebagai karya yang berani, pasalnya, jika dibandingkan dengan perupa lainnya yang membuat karya lebih dari satu, Ucok (panggilan akrabnya) berani mengambil risiko untuk menampilkan satu sudut pandang pembacaan (saja) untuk bermacam-macam fenomena yang terjadi di Jakarta. Alih-alih mengambil banyak sudut pandang untuk disajikan pada apresian yang memiliki beragam latar belakang, ia justru menyajikan satu cara baca tertentu bagi apresiannya. Namun, sama seperti yang lain, timbul pertanyaan-pertanyaan bagi karya tunggalnya ini, misalnya kemunculan figura yang dilukis dalam lukisan-lukisannya, kepentingan ia dalam menampilkan figura-figura itu secara lukis perlu dijelaskan, selain itu tidak adanya unsur audio dalam karya tunggalnya rasanya perlu ditanyakan jika tujuan dari karyanya adalah menampilkan suasana ibu kota. ***

100 Juta Rupiah untuk Anggun




AKHIRNYA, “tahta” tertinggi kompetisi seni rupa Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) jatuh ke karya kreasi Anggun Priambodo. Seniman muda yang menetap di Jakarta ini mengetengahkan karya video art-nya yang bertajuk “Sinema Elektronik”. Dengan kemenangan ini, maka Anggun berhak mendapatkan hadiah utama berupa uang sejumlah Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) plus hadiah lain berupa kesempatan melakukan residensi ke mancanegara.

Para Dewan Juri yang terdiri dari Carla Bianpoen (jurnalis seni), Mella Jaarsma (seniman), Agus Suwage (seniman), Rifky Effendy (kurator), Hendro Wiyanto (kurator), Wiyu Wahono (kolektor seni) dan Syakieb Sungkar (kolektor seni), juga memutuskan tiga (3) Karya Terbaik, masing-masing karya instalasi lukisan kreasi Aditya Novali yang bertajuk “Mooi in (Die) series: Tommorow“, instalasi lukisan packing cargo bertajuk “Today Parcel” karya Erianto, dan “Mirror Sees Me Series“  karya Erika Ernawan yang berujud instalasi foto dan video performance. Ketiga seniman ini (juga) berhak mendapatkan penghargaan berupa residensi ke luar negeri, dengan pilihan antara negara-negara di Asia atau Eropa.

Menyeriusi yang Sepele

Di antara keempat penerima penghargaan tertinggi itu, posisi Erianto menjadi menarik. Anak muda yang mungil dan berambut panjang ini merupakan seniman yang selama ini banyak ditempa pengetahuan dan pengalaman berkeseniannya di Padang, Sumatra Barat, bukan di Jawa yang selama ini selalu mendominasi dalam tiap perhelatan yang kompetitif. Seniman lulusan Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang (UNP) dalam setengah tahun terakhir ini ulai menetap di Yogyakarta untuk meneruskan studi di pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Keberhasilannya pada perhelatan ini, bisa diduga, merupakan bagian penting dari kegigihannya untuk mengejar ketertinggalan yang dirasakannya ketimbang seniman lain terutama dari kawasan lain di lingkungannya.

Berikut ini hasil interviu singkat Indonesia Art News dengan seniman yang akrab disapa sebagai Mak Etek (Si Paman Kecil) sehari sebelum pengumuman BaCAA diuarkan ke publik.


Karya yang Anda ikutkan BaCAA itu judulnya apa? Apa konsep dasar dari karya tersebut?

TODAY PARCEL. Pada karya ini saya mengangkat hal yang kadang dianggap sepele, namun bagi saya menjadi hal yang amat serius, penting dan berarti yaitu sebuah paket (box).Karena menurut saya paket tersebut adalah sesuatu yang dirasa tidak lepas dalam berkesenian terutama dalam rangka menjaga dan memelihara karya seni, karena paket tersebut berperan penting demi keselamatan sebuah karya seni, Artinya apa? Dengan mengabaikan sebuah paket (box) berarti menyia-nyiakan apa yang ada di dalamnya apalagi itu sebuah karya seni.

Kemudian, secara proses karya ini memang karya 2 dimensi (lukisan) yang terdiri dari 3 panel, namun secara visual adalah suatu tumpukan paket yang terkesan belum dibuka, dan secara pendisplaiannya karya ini memang ditumpuk di lantai menyandar ke dinding. Jadi tidak lagi digantung. Hal ini merupakan sebuah dobrakan dari paradigma tentang seni rupa kita belakangan ini yang sedikit agak kaku, sehingga terjadi pengkotak-kotakan dalam seni rupa itu sendiri terutama pada karya seni.

Dengan berolah seni dan proses kreatif yang saya lakukan sehingga melahirkan sebuah karya yang beda dari karya yang lainnya, dimana karya ini memiliki multi-penafsiran, karena tidak lagi hanya sebagai karya seni lukis melainkan juga terlihat sebagai karya 3 dimensi atau instalasi. Dan ini merupakan sesuatu karya kreatif, dengan demikian karya ini mampu membuat paradigma baru seni rupa kita ke depan.

Ini tema dan gagasan baru, atau merupakan kelanjutan dari karya-karya Anda yang lain sebelum ini yang merupakan sebuah periode atau babak dalam proses kreatif selama ini?

Ya, memang tema baru. Dengan proses kreatif yang baru pula.

Apakah proses pembuatan karya ini Anda suntuki sebagai seniman yang penyendiri, atau Anda membuka diri dengan jalan berdiskusi, berdebat dan semacamnya hingga melahirkan karya?

Sebenarnya memang sebuah hasil perenungan dari sebuah pengalaman dari fenomena terutama yang permasalahan yang paling dekat dengan saya, mas.

Apakah karya tersebut dipersiapkan untuk kompetisi ini, atau “kerja sambilan” di sela kuliah S2 yang tentu menyita konsentrasi waktu dan perhatian?

Berawal dari proses saya tadi, aku coba mengeluarkan ide apa yang sedang terpikirkan dan menurutku sebuah gagasan yang cemerlang dan patut untuk disampaikan, sekaligus ada kompetisi dan secara tematik menurut saya sangat pas untuk mempublikasikan gagasan tersebut.

Kalau ada, apa sih nilai moral yang Anda tawarkan dari karya ini?

Kalau masalah pesan moral menurut saya sangat ada, terutama tentang pertanggungjawaban kita sebagai makhluk yang berbudaya, dimana dalam karya ini sebuah tuntutan untuk mengemas sebuah nilai-nilai budaya tersebut sebaik mungkin. Sekaligus sebagai kritikan terhadap kondisi sekarang terutama budaya kesenirupaan kita.

Apakah Anda juga menyadari bahwa karya Anda ini memiliki capaian yang kuat dibanding karya-karya Anda sebelumnya sehingga, minimal, bisa mencapai sebagai finalis?

Saya sangat menyadari, itu alasannya karya ini saya ikutkan dalam kompetisi ini

Setelah karya Anda jadi dan setidaknya menjadi finalis BaCAA, adakah hal yang Anda koreksi atas karya Anda ini, setidaknya koreksi itu muncul pada karya berikutnya?

Secara jujur untuk karya ini tdk ada koreksi lagi,namun untuk karya berikutnya,kalo bisa memang harus bisa lbih baik,otomatis dari sisi yang lain

Lebih dari setengah tahun Anda menetap di Yogyakarta untuk kepentingan studi S2. Hal apa sajakah yang telah Anda rasakan dan dapatkan?

Rasanya cukup banyak, terutama selain kondisi S2 adalah keadaan di Jogja, saya mendapat kondisi dan situasi yang baru terutama dalam iklim berkesenian yang sangat kompetitif.

Masukan dan kebaruan yang Anda dapatkan selama di Yogyakarta, terasa datang dari ranah studi atau justru di luar kampus?

Dua-duanya. Di kampus saya lebih banyak dapat ilmu secara teoritis, namun scara semangat saya dapat dari lingkungan sekitar.

Kalau Anda masuk 3 Besar BaCAA dan berkesempatan untuk residensi di mancanegara, apa target yang ingin disasar?

Ya, secara mendasar aku berfikir ingin mendapatkan ilmu dimana saja dan mencari pengalaman dari apa yang dilaksanakan. Tapi yang jelas seandainya itu terjadi saya akan mamfaatkan momen itu sebaik mungkin, dan itu sebagai motivasi demi proses kreatif ke depan.

Sebagai seniman yang selama ini banyak dibesarkan di Ranah Minang, apa pengharapan Anda setelah studi di Yogyakarta?

Kalau yang diharapkan sangat banyak. Tapi intinya adalah bagaimana kondisi atau iklim berkesenian daerah bisa setara dengan kondisi yang ada di pusat, karena daerah merupaka bagian dari pusat, semoga maju dan tetap bersengat. ***

Seni Rupa dalam Kuasa Tuhan dan Pasar




SITUASI dan perkembangan seni rupa pada kurun 2000-an hingga kini, pada akhirnya, memunculkan  kekuatan yang tak tampak (invisible hand) namun begitu kuat pengaruhnya dan terbagi dalam dua “kekuatan”, yakni Tuhan dan pasar (the invisible hand of God dan the invisible of market). Point yang diketengahkan Esche di atas memang seperti sebuah kepasrahan. Tapi faktanya, hal itulah yang terjadi. Pasar menjadi kekuatan yang selalu mewarnai dalam tiap perhelatan seni rupa. Dan Tuhan ditempatkan dalam posisi yang satiris sebagai “pengimbang” karena kuatnya kekuatan pasar itu. Inilah salah satu point yang disampaikan oleh Charles Esche, kurator seni rupa asal Jerman dalam kuliah umum (public lecture) di auditorium Lembaga Indonesia Prancis (LIP), Senin, 10 Januari 2011. Acara yang dihelat oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Yayasan Biennale Yogyakarta, dan Ruangrupa ini mengetengahkan tema pokok menarik Decentralization of Biennales: The Changes of Geographies and Directions of Contemporary Art Post 2000s.


Pada bagian awal paparan kuliahnya, advisor Rijksakademie dan Direktur Van Abbe Museum, Eindhoven, Belanda ini mengilustrasikan bahwa antara kurun 1998-2008 terjadi banyak perubahan dalam perkembangan seni rupa dunia. Tiga hal penting yang ditengarai sebagai hal penting oleh Esche adalah “temuan” Asia, yakni ketika nilai-nilai lokal Asia banyak diketengahkan dan diserap secara lebih meluas, lalu menguatnya budaya visual sebagai bahasa komunikasi, dan makin tajamnya pengaruh kurator dan aspek kepengarangan dalam kuratorial pameran seni rupa. Realitas ini tentu telah bergeser dari masa-masa sebelumnya ketika “temuan” Eropa dengan segala nilainya banyak mendominasi bahkan hegemonik dalam perbincangan di seni rupa dunia. Juga besarnya peran-peran negara dalam menentukan kompetisi.

Hal menarik yang juga disampaikan oleh Esche adalah bahwa pada kurun 2008 hingga sekarang ini merupakan masa-masa ketika biennale berkompetisi secara ketat dengan berbagai artfair yang bertaburan di banyak negara, termasuk di negara-negara di kawasan Asia sebagai kekuatan baru dan tangguh. Misalnya, tentu saja, China. Namun demikian keberadaan biennale masih tetap dibutuhkan ketika sebuah kawasan atau negara ingin survive sebagai meeting point yang penting dan diperhitungkan. Artfair dianggapnya tetap penting, namun sepertinya lebih banyak “sekadar” making money (mengeruk keuntungan). Sedang biennale bisa dimungkinkan membuat tantangan-tantangan dan pengalaman-pengalaman estetik bagi seniman dan masyarakatnya.

Sementara pada kurun yang sama, menurut pengamatan Esche, Eropa mulai terasa mengurangi bantuan pendanaan (bagi lembaga-lembaga) kebudayaan di kawasan (seperti) Asia yang selama ini rajin “menyusu” (pada Eropa). Tafsir atas point itu, tentu, mengasumsikan bahwa (gerakan kebudayaan di) Asia telah mulai mandiri, atau sebaliknya, Eropa ingin kembali memperkuat dirinya yang telah mulai digerogoti dominasinya oleh Asia. Atas poin-poin ini, Esche bertanya: apakah inilah saatnya berbagai tantangan dan kemungkinan akan terbuka, atau sebaliknya, saatnya keruntuhan radikal (akan) terjadi? (moment of challenge and possibility or moment of radical collapse?)

Kuliah umum yang (pada awalnya) dihadiri sekitar 75-an dilengkapi pula oleh dua penanggap, yakni Nindityo Adipurnomo dari Cemeti Art House, dan Alia Swastika, kurator independen. Charles Esche pun kian bersemangat untuk melontarkan gagasan, pendapat dan pengalamannya ketika sesi tanya-jawab dengan peserta terjadi. Acara yang dimulai sekitar pukul 16.30 itu pun berakhir hingga sekitar 20.30 dengan diselingi rehat selama setengah jam.

Segelintir publik seni rupa Yogyakarta, sore itu, kiranya mendapatkan banyak pembelajaran dari kurator seni rupa kelahiran Inggris tahun 1962 yang juga
co-founder dan co-editor jurnal Afterall 
ini. ***

Membebaskan Publik Memaknai Karya Seni

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Sebanyak 94 perupa menggelar pameran bersama bertajuk “Speak Of” di Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta selama sembilan hari, dari 29 Januari hingga 7 Februari 2011 mendatang. Karya seni rupa yang ditampilkan beragam bentuknya, dari lukisan, patung hingga seni instalasi.

Di antara para perupa itu antara lain adalah Aan Arief, Abdi Setiawan, Dadi Setiadi, Decky Leos, Lenny Ratnasari, Mufi Mubarok dan Wilman Syahnur. Para seniman peserta pameran diberi kebebesan menampilkan karya mereka sesuai dengan keahlian masing-masing.

Kurator pameran Rain Rosidi mengatakan gagasan pameran ini adalah untuk memberikan ruang yang lebih luas untuk menikmati karya seni dari para perupa sekaligus ikut memaknainya. Penonton pameran adalah konsumen hasil karya dan produsen pembacaan atas makna karya. “Publik memiliki otoritas untuk menilai,” kata dia di sela pembukaan pameran, Sabtu (29/1) malam.

Speak of
, kata Ali Elminant, kurator yang lain, berniat menyampaikan secara langsung karya seni yang dibuat perupa pada publik. Biarlah publik sendiri yang memaknai, demikian dia menjelaskan lebih lanjut. “Berbeda dengan speak for yang berarti ada unsur keterwakilan,” kata dia, “Speak of adalah berarti langsung menyampaikan.”

Ada tiga tahap bagaimana sebuah karya seni sampai pada publik. Yang pertama, proses produksi oleh perupanya dan berlanjut ke tahap dua, yakni mediasi. Tahap mediasi ini bisa dilakukan di galeri, acara dan kuratorial. Berikutnya, berdasar kurasi itu karya seni sampai pada tahap ketiga, dinikmati publik.

Sayangnya, dalam proses mediasi ini kerap kali sebuah karya seni terdistorsi maknanya. Padahal publik menjadikan referensi dari tahap proses mediasi itu untuk memaknai karya seni. “Melalui pameran ini, proses mediasi ini yang hendak diabaikan,” kata dia, “Biarkan publik menilainya sendiri.”

Lantas, kenapa masih ada kurator dalam pameran kali ini? Sri Krisnanto, seorang kurator lain dalam pameran itu menjelaskan, bahwa kurasi ini hanya bersifat sementara. Selama dua hari mendatang, pada tanggal 31 Januari dan 1 Februari nanti, mereka akan menggelar forum diskusi. Masing-masing diskusi, akan dihadirkan 10 orang dari berbagai kalangan, semisal mahasiswa, akademisi, politisi, jurnalis hingga lembaga non pemerintah.

Secara dialogis, lanjut dia, mereka akan diminta memaknai sebuah karya seni yang ditampilkan. “Sebuah karya seni tidak berhenti di dinding pameran saja,” kata dia, “Mereka akan diminta menafsirkannya.” Hasil pemaknaan mereka itulah yang akan menjadi kurasi dari karya yang dipamerkan dan akan dibukukan.

ANANG ZAKARIA

Perupa Muda Yogyakarta Tak Terikat

 
"Dry your tears, Teach me how to luv u! Haus cinta". Begitu masuk Gedung C Galeri Nasional Jakarta, mata segera disergap berbagai bentuk gambar warna-warni dengan torehan tulisan-tulisan seperti itu. Seluruh dinding menjadi kanvas untuk kreasi belasan perupa muda. Nyaris seperti deretan graffiti, dengan balon-balon komik berisi hati merah menjadi "perekat" semua bentuk-bentuk itu. Cita rasa urban begitu terasa.

Kesan pertama itu begitu kuat saat menengok pameran Bohemian Carnival di gedung C Galeri Nasional Jakarta. Para perupa berkolaborasi menuangkan lukisan bersama-sama. Hasilnya adalah ruangan yang mendadak terasa ramai dan hiruk-pikuk. Dari bentuk siluet orang yang kakinya digambar hingga ke tegel hingga sosok tengkorak kartunik yang topinya dilukis hingga menyentuh langit-langit ruangan.

Melangkah ke ruang-ruang selanjutnya, barulah kita melihat karya-karya individual para perupa. Seluruhnya ada 18 orang. Paling tua berusia 33 tahun, yang termuda kelahiran 1984. Dengan ciri masing-masing, mereka dengan bebas berkarya, menabrak-nabrakkan pakem, tetapi tetap berpegang pada figur.

Tengok salah satu karya Sigit Bapak, 33 tahun. Sebuah boneka perempuan dilukis tergeletak. Lengkungan mulut boneka itu menyiratkan kesedihan. Matanya tak terlihat, digantikan garis hitam yang mengeblok kedua mata. Ada tulisan huruf cetak: "ini wati", mengingatkan pada kakaknya si Budi, tokoh dari buku pelajaran membaca di sekolah dasar (era 80-an). Eh, tapi lukisan itu dijuduli Ini bukan Wati karena si Wati sedang membantu ibu memasak di dapur.

Permainan" dengan kenangan masa lalu juga ditunjukkan oleh Teguh Hariyanta, 29 tahun, melalui Melaju Membawa Masa Kecilku. Memakai teknik cetak woodcut, seperti pada karya-karya lainnya, dia menggambar baskom berisi air dengan foto bayi mengapung tak jauh dari mainan kapal. Mainan kapal ini dulu banyak dijual di pasar-pasar, berbahan kaleng bekas, biasa diisi minyak tanah untuk "bahan bakar". Teguh kerap bergiat dengan seni mural, yang telah mengantarnya ke Jepang dan Spanyol.

Gintani Nur Apresia Swastika, 25 tahun, mencoba kolase kain. Di atas kain, dia mencetak foto tua gedung Bank Indonesia di Yogyakarta. Tampak becak-becak lalu lalang. Tapi Gintani menambahkan sebuah mobil berwarna merah, terbuat dari kain dengan detail-detail jahitan benang wol. Judulnya Effortless--tanpa usaha. Idenya mempertemukan dua moda transportasi, juga dua teknik "menggambar", sudah pasti bukan tanpa usaha.

Ada juga Rona Mahendra, 30 tahun, yang bermain dengan pelesetan Superman lewat Super Love Man dan The Queer. Pada The Queer, logo Superman (huruf S) diganti dengan huruf Q--banci. Sang "superman" masih berbaju biru dan berjubah merah, tapi dengan gerak tangan gemulai. Bunga dan bando melekat di rambut. Dari mulutnya, Rona menggambar pola-pola yang menyimbolkan tutur mendayu-dayu. "Saya bermain-main dengan sesuatu yang aneh. Menabrakkan pakem yang sudah ada adalah sesuatu yang menyenangkan," kata dia.

Kurator pameran, Farah Wardani, sengaja memilih ke-18 perupa Yogyakarta ini. Ini boleh dibilang merupakan upaya untuk mendefinisikan kembali praktek seniman kontemporer muda Jogja. Mereka adalah orang-orang muda yang, karena tumbuh di kultur yang mendukung, bebas dalam berkarya. Para seniman yang bergiat dalam subkultur dan gaya hidup bohemian.

"Yogyakarta adalah tempat pilihan ideal untuk cara hidup (seniman) Bohemian," kata Farah dalam nota kuratorialnya. Di sana, kata dia, para perupa bisa mengembangkan kreativitas dalam situasi lingkungan yang mendukung dan menghargai mereka. Bohemian Jogja adalah campuran kota-desa, tradisional-modern dan seterusnya.

Menarik untuk melihat geliat perupa-perupa muda Yogyakarta, untuk kemudian dibandingkan dengan seniman muda dari Bandung--tempat seni tumbuh bersama konsumerisme. Di Galeri Nasional, awal tahun ini, digelar Bandung Art Now. Galeri seperti SIGIarts di Jakarta Selatan juga kerap memunculkan karya-karya perupa muda Bandung. Di Bandung, tampaknya, para perupa tak malu menggeluti karya-karya trimatra, juga menggeluti saluran lain seperti video dan foto. Perupa Yogyakarta menunjukkan bahwa dua dimensi masih menarik untuk diobservasi.

Tapi, benang merah yang sama dari perupa-perupa muda kedua kota adalah mereka sama-sama tak merasa terikat pada tradisi dan sejarah seni. Bohemian yang bebas.

Sumber:tempointeraktif.com


Seni Rupa Minangkabau Hari Ini




Selain Jawa dan Bali, wilayah di Indonesia yang memiliki potensi budaya yang besar dan kuat adalah Minangkabau. Sejarah membuktikan dengan berbagai jejak atau artefaknya, baik berupa fakta benda-benda, maupun fakta mental dan fakta sosialnya. Tradisi intelektual di Minangkabau, sudah berkembang sejak lama, antara lain terekam pada jejak tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Sutan Syahrir, Mohamad Hatta, A.A. Navis, dan sejumlah tokoh seni rupa (seniman) seperti Oesman Effendi dan Wakidi, serta tokoh-tokoh dari generasi berikutnya.


Akan tetapi problema dari ketiga pusat “wilayah budaya” (Jawa, Bali, Minangkabau) itu adalah, daya tahan dan kemampuannya merawat, menstransformasi, dan merevitalisasi potensi budaya itu pada generasi masa kini. Artinya, pusat-pusat itu sangat mungkin terus tergerus, tereduksi oleh kehidupan dan budaya masa kini, yang akan berakibat pada para penghuninya. Budayawan Irwan Abdullah, dalam suatu ceramahnya mengidentifikasi, bahwa tiga kebudayaan besar yang cukup mampu bertahan hingga hari ini adalah kebudayaan Sunda, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Bali. Para pendukung dan penjaga budaya di tiga area tersebut, memiliki cara yang khas dalam merawat dan merevitalisasi budayanya.


Khusus dunia seni rupa, di tiga wilayah pusat budaya itu – Jawa, Bali, dan Minangkabau – juga terjadi lompatan pertumbuhan yang menarik untuk dicermati. Di tiga wilayah itu (khususnya di Jawa adalah yang terjadi di Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya), dalam waktu dekade terakhir, muncul para perupa muda yang menyodorkan ‘kode estetik’ – terkait dengan gagasan, medium, bentuk presentasi, dan bahasa ekspresi – yang berbeda jauh dari para generasi sebelumnya. Tak hanya itu, karya-karya mereka – terutama para perupa muda – juga meramaikan dunia transaksi (pasar) yang tak jarang mengejutkan banyak pihak.


“Minangkabau” dan “Kode Estetik”
Menyematkan kata “Minangkabau” untuk menunjuk praktik seni rupa oleh para perupa (asal) Minangkabau, sesungguhnya cukup mengundang persoalan. Karena dapat terpeleset, seolah-olah merupakan sebuah klaim dari sebuah entitas yang menyodorkan kode spesifik. Padahal sesungguhnya, karya-karya yang bisa kita lihat, nyaris tak ada tanda yang spesifik yang beraroma keminangkabauan. Artinya, penggunaan kata Minangkabau – khususnya dalam pameran ini – diniatkan sebagai batasan wilayah, yang dianggap menarik untuk diperiksa dengan seksama.


Seperti sudah disebut di muka, karya-karya seni rupa dari para perupa yang berasal dari tanah Minangkabau (Padang), Sumatera Barat, dalam kurun sekitar sepuluh tahun terakhir, menunjukkan eksistensi fenomenal. Sejumlah perupa muncul dengan sejumlah karya yang menunjukkan ‘kode estetik’ yang mengundang perhatian banyak pihak; memiliki pencapaian artistik yang ‘menarik dan kuat’ (gagasannya, penggunaan medium, teknik presentasi, bahasa ekspresi, yang menunjukkan upaya-upaya penyerapan dari berbagai ‘sumber’ yang demikian agresif). Karya-karya mereka juga dipamerkan di banyak galeri baik di dalam mau pun di luar negeri, diulas oleh banyak kritikus dan jurnalis, dikoleksi oleh banyak pencinta seni, serta menjadi bintang transaksi di banyak arena balai lelang.


Bagaimana semuanya itu bisa terjadi? Bagaimana pula memahami fenomena ini? Yang segera bisa dipahami secara mudah adalah, bahwa waktu dan kesempatan tengah berpihak pada mereka. Kelompok Jendela – yang mewakili generasi “rantau” tahun 90-an – menjadi semacam pemicu munculnya kegairahan kreatif bagi generasi berikutnya. Di luar itu ada Kelompok Genta, Kelompok Semut, hingga komunitas yang lebih besar yang mewadahi para perupa Minangkabau di Yogyakarta, yakni Komunitas Sakato. Tak bisa disangkal, individu, kelompok, maupun komunitas yang tumbuh dan berproses di “rantau” memiliki peluang lebih besar, baik dalam hal akselerasi memperoleh informasi dan memasuki ruang-ruang presentasi, lebih besar peluangnya dalam hal mediasi (dalam segala bentuknya), dan berada dalam “ruang kompetisi” yang lebih ketat. Faktor “ruang kompetisi” ini menjadi variabel penting, karena yang menjadi pemicu untuk memanfaatkan ruang-ruang presentasi dalam segala bentuk dan level, menjadi ajang “promosi” yang efektif. Forum-forum seperti biennale, atau sejumlah pameran yang dikuratori dengan ‘tajam dan menarik’, betapa pun merupakan forum yang efektif untuk menghadirkan diri dengan kualitas terpilih dan atraktif. Karena dengan demikian, ia dan karyanya, akan menyedot perhatian publik.


Seiring dengan mudahnya akses informasi dan komunikasi, generasi berikutnya yang tetap tumbuh dan mengembangkan diri di “kampung”, terus mengembangkan diri, membentuk kelompok-kelompok (di antaranya tercatat ada Kelompok Pentagona dan Komunitas Seni “Belanak”), dan juga menunjukkan terobosan kreativitas yang menarik. Akan tetapi, “ruang kompetisi” dan berbagai “forum yang menantang” – seperti yang terjadi di Jawa, atau Yogyakarta misalnya – nyaris tidak ada. Karena itu, akselerasi menjadi lebih lambat. Sementara sosok seniman yang mampu melakukan terobosan secara individual – memiliki kesanggupan melintas batas wilayah, kemudian merebut panggung-panggung presentasi yang prestisius – juga sangat sedikit. Sekadar menyebut contoh, Zirwen Hazri adalah salah seorang yang memiliki peluang besar ‘menembus batas’, dengan berbagai kesempatan diundang dalam pameran-pameran penting seperti biennale (Yogyakarta), dan salah seorang yang terpilih sebagai nominator dalam peristiwa Akili Museum Art Awards 2008.


Pertanyaannya, mengapa Zirwen? Penjelasan sederhananya adalah karena karya-karyanya memiliki kekuatan visual (daya pukau) dan kekuatan isi (daya ganggu) yang terus bergerak dengan meyakinkan. Ia tidak (belum) terperangkap pada jebakan stereotipe visual maupun gagasan, dan masih menunjukkan upayanya untuk menajamkan gagasan atau tema-temanya. Potensi besar ditunjukkan oleh Amrianis, Nasrul, dan Erianto ME. Pada hemat saya, bagi para perupa yang memutuskan untuk berproses di “kampung”, memang harus mengupayakan secara maksimal (dan habis-habisan) untuk mengomunikasikan gagasan dan karya-karyanya, sebagai salah satu cara untuk merebut panggung-panggung presentasi yang penting, bermutu, dan prestisius. Tantangan ini tak hanya bagi mereka para seniman, tetapi juga penting diperhatikan oleh para patron (pendukung, sponsor, art dealer, galeri, dan sejenisnya).


Tentang Kekuatan Gagasan dan Terobosan
Apa yang terjadi di “rantau” dan yang terjadi di “kampung” seperti saling silang dalam semangat menerobos ‘aroma keminangan’ yang sering identik dengan lukisan kaligrafi arab dan tema-tema panorama. Kini, karya-karya para perupa Minangkabau menjadi salah satu penanda penting dalam keriuhan wacana seni rupa kontemporer Indonesia.


Pameran ini mencoba menampilkan karya-karya para perupa dari tanah Minangkabau – baik yang kini tinggal, menetap dan berproses di Yogyakarta (“rantau”), maupun mereka yang tinggal, menetap dan berproses di tanah Minangkabau (“kampung”) – dengan dinamika proses kreatif dan keragamannya. Perihal yang segera tampak sebagai persoalan menarik untuk diamati, yakni, mereka yang lahir di Minangkabau (Padang dan sekitarnya), dan tumbuh serta mengembangkan keseniannya di “rantau” (khususnya Yogyakarta), dan mereka yang tumbuh dan mengembangkan keseniannya di tanah kelahirannya (“kampung”), adalah terkait dengan gagasan, bahasa ekspresi, dan medium. Ketiga hal (aspek) ini seperti berada dalam satu nafas dan kecenderungan.


Pameran dengan menampilkan wajah “rantau” dan “kampung” dalam satu forum/ruang ini segera mengundang pertanyaan; Mengapa terjadi kecenderungan yang hampir seirama, setidaknya dalam hal bahasa ekspresi dan medium? Mengapa, misalnya, para perupa yang tinggal di “kampung” tidak mengeksplorasi dan mengoptimalkan kode estetik (kritis) dalam perspektif kampung? Mengapa persoalan jarak, kesenjangan, ironi, impian, dan sejenisnya, tidak cukup menarik perhatian untuk dijadikan tema-tema karya mereka? Adakah titik keterpengaruhan antara seniman/kelompok yang satu terhadap lainnya dalam hal corak, gaya, langgam, hingga spirit kreatifnya?


Saya membayangkan, yang bisa digali dari keduabelah pihak adalah perihal cara pandang atau perspektif. Hal itu pulalah yang akan membuat keduanya, antara yang “kampung” dengan yang “rantau” menjadi berbeda, namun dalam kekuatan yang sama. Jika aspek “sudut pandang” (terhadap persoalan) ini tidak tergarap dengan baik dan maksimal, yang terjadi adalah, seperti sudah disebut, nafas dan kecenderungan yang mirip. Dengan demikian berpotensi mengundang prasangka terjadinya peniruan, pemiripan, dan sejenisnya, sebagai jalan pintas meraih ruang presentasi.


Yang hendak saya katakan adalah, perihal “perspektif atau sudut pandang” dalam melihat persoalan, tema, atau gagasan, harus dieksplorasi dan dioptimalkan dengan segenap kejujuran. Maka, dapat dipastikan, akan menghasilkan kekuatan yang beragam. Dengan demikian, persoalan terobosan akan datang dengan sendirinya.


Pameran ini juga menyodorkan asumsi, bahwa kondisi seni rupa Minangkabau bagai bangunan “Trapesium”; “sebuah bangunan segi empat, yang dua buah sisinya sejajar, tetapi tidak sama panjang”. Bahwa faktanya mereka tumbuh dalam atmosfir lingkungan yang berbeda, namun sesungguhnya dalam atmosfir kesenian yang sama. Istilah asli “trapesium”, yang dalam hal ini juga “dimain-mainkan” menjadi tertulis “Trap[esium]”, dihasratkan sebagai pembayangan bahwa ada problema geografis atau persentuhan kultural yang diandaikan menjadi jebakan (trap) bagi seniman/kelompok seniman dalam berproses di “kampung” dan di “rantau”. Praduga ini dikemukakan demi didasari oleh fakta bahwa perupa di “kampung” (seringkali tampak) lebih lambat “panas” ketimbang seniman yang berproses di “rantau”. Juga fakta adanya harmoni dalam berkomunitas yang berpeluang melahirkan jebakan (trap) semacam epigonisasi (pemiripan atau peniruan) antara satu seniman pada seniman lainnya.


Apakah itu artinya berpengaruh pada kualitas produk kesenian (karya seni rupa) mereka? Bisa ya, bisa tidak. Ya, ketika mereka yang di “kampung” juga yang di “rantau” tidak berupaya maksimal memperkaya referensi, (sekali lagi) mengeksplorasi, dan memaksimalkan cara pandang/perspektif dalam melihat gagasan, tema, dan persoalan sebagai bekal proses kreatifnya. Betapapun, karya seni rupa adalah akumulasi dan pertemuan dari kekuatan gagasan dengan kecanggihan teknik. Pameran bertajuk “TRAP[ESIUM]” ini menarik, karena berupaya menelusuri kompleksitas proses kreatif para perupa Minangkabau masa kini. Pameran ini juga sebuah tantangan bagi para perupa Minangkabau – juga yang lainnya – bagaimana memacu diri untuk terus mengembangkan diri dalam hal cara pandang/perspektif terhadap berbagai persoalan dan gagasan, mampu membidik celah persoalan, menghadirkan dalam ‘bahasa’ yang kuat dan menggoda. Dengan demikian, maka mereka berhasil memaknai apa yang disebut sebagai kreativitas, kemudian menjadi seniman kreatif yang karya-karyanya berpotensi memberikan pencerahan bagi orang lain.




Suwarno Wisetrotomo
Kurator

ARTor



Kesenian pada setipa zamanya mempunyai fungsi yang berbeda-beda, himgga saat ini seni masih dijadikan kebutuhan dari jiwa seseorang yang menggelutinya, berbagai zaman telah dilewatinya seni tetap menjadi dasar dari kehidupan tidak heran kalau seni itu seperti halnya AGAMA, untuk lebih mengenalnya silahkan baca disini....


Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta).
ESTETIKA SENI

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Etimologi

Esetetika berasal dari Bahasa Yunani, αισθητική, dibaca aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:
  1. Studi mengenai fenomena estetis
  2. Studi mengenai fenomena persepsi
  3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis

Penilaian keindahan

Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda.

Konsep the beauty and the ugly

Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.

Sejarah penilaian keindahan

Keindahan seharusnya sudah dinilai begitu karya seni pertama kali dibuat. Namun rumusan keindahan pertama kali yang terdokumentasi adalah oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni atau seni murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.